Hutan Rahasia

Beribu dongeng terjadi di dalam hutan. Aku sudah mendengarnya di saat bahkan pikiran sederhana kecilku hanya mampu menangkap suara ibu, yang menceritakan semua keajaiban itu padaku, setiap malam. Mengantarku tidur dengan kepakan sayap peri yang berwarna-warni, serigala jahat yang membuatku cepat-cepat masuk ke dalam selimut, dan bintang yang berkelap-kelip di atas pucuk cemara yang menjulang.

Saat aku mulai mengerti rangkaian huruf yang membentuk kata, Ibu menghadiahiku satu buku setiap minggu. Hari Kamis, jadwalnya buku itu datang. Bergambar indah dengan tidak terlalu banyak tulisan di dalamnya, khas buku dongeng untuk anak-anak. Umurku enam tahun saat itu. Saat dongeng-dongeng manis menyentuh lebih jauh ke dalam alam imajinasiku.

Satu keluarga tupai tinggal di dalam rumah indah mereka di sebuah pohon besar, di dalam hutan. Tupai-tupai itu memakai baju dan kacamata. Ada meja makan kayu besar berbentuk persegi panjang, di mana ibu tupai menyajikan makan malam untuk semua anggota keluarganya. Aku sangat ingin tinggal di dalam rumah tersebut, pintunya melingkar di bagian bawah pohon, dan jendela-jendela kecil menghiasi bagian atasnya.

Umurku terus bertambah. Di satu angka yang menginjak sembilan, ada dongeng lain tentang hutan yang melekat sampai sekarang. Seorang gadis kecil berambut emas, tinggal di sebuah pondok kecil di dalam hutan. Setiap hari ia membuat olahan permen yang berbau harum dan terasa manis. Ia bagikan permen itu kepada setiap penghuni hutan, yang selalu senang menerimanya. Sampai suatu hari seorang pangeran datang dan mengikuti jejak harum permen tersebut, dan mengantarkannya pada gadis cantik berambut emas pembuatnya. Merekapun berteman, karena ini dongeng anak-anak, akhir cerita mereka belumlah sampai pada sebuah kalimat happily ever after, hanya pertemanan, yang tulus tanpa syarat.

Ada pesta minum teh yang diadakan di dalam hutan setiap kali bulan purnama muncul. Sebuah meja berukiran indah dan cangkir-cangkir porselen yang manis tertata di atasnya. Kau bisa memilih sendiri rasa favoritmu. Bagi si kelinci cokelat yang selalu memakai dasi kupu-kupu di lehernya, peppermint adalah rasa favorinya. Seekor kucing berbulu hitam dan putih selalu setia menemani si kelinci menikmati teh di saat bulan purnama. Hutan menjadi lebih terang dan hangat. Tidak jarang seekor burung biru gendut ikut meramaikan suasana, hanya jika dia belum mengantuk.

Apa kau percaya peri?

Aku percaya. Bahkan sampai umurku menginjak akhir belasan tahun, aku masih menyimpan susu dan biskuit di bawah jendela kamarku, berharap peri sudah memakannya ketika aku bangun keesokan paginya. Bagi setiap pencinta dongeng hutan, menyelinap malam-malam dengan sebuah perangkap berbentuk rumah-rumahan kecil yang dibuat untuk menangkap peri adalah suatu hal yang wajib dilakukan. Menyimpannya di sekitar sungai, berdiam sejenak mengawasi, lalu merasakan kantuk, memutuskan untuk pulang dan berlomba-lomba menuju tempat yang sama esok harinya di mana perangkap itu diletakkan, untuk melihat adakah seorang peri yang terjebak di sana. Ada sebuah film tentang itu, saat aku masih kecil.

Pohon hijau yang rindang dan sungai kecil yang mengalir di bawahnya selalu menawarkan sihir, tentang malam-malam penuh kelip warna, entah bintang, kunang-kunang, atau sayap-sayap transparan peri-peri hutan yang sedang mengisi perbekalan musim dingin. Aku selalu ingin bisa berada di tengah semua itu.

Umurku sekitar tiga belas tahun saat hari minggu pagi selalu kuhabiskan dengan menonton televisi. Film-film anak buatan luar negeri yang menawarkan petualangan di sekitar hutan dan tentu saja, rumah pohon sebagai persembunyian. Sekelompok anak kecil yang berpetualang, bermain perang-perangan, atau hanya untuk berbincang di rumah pohon, basecamp mereka.

Aku tinggal di daerah perkotaan sedari kecil. Tidak ada hutan, tidak ada sungai kecil yang mengalir, tidak ada rumah pohon. Aku mengenal hutan hanya dari jendela-jendela indah yang ibu hadiahkan kepadaku, buku. Aku mengenal hutan dan semua keajaiban di dalamnya hanya dari sebuah tulisan dan gambar-gambar indah ilustratornya. Mengenal hijau yang menyegarkannya pohon rindang hanya dari goresan tinta dan membayangkan sihir indahnya hanya dengan mengandalkan imajinasiku yang membuat teman-temanku sering berkata “Kamu terlalu banyak mengkhayal”.

Aku sedih, setiap kali menonton film anak-anak buatan luar negeri.

Aku akan menghampiri ibu yang sedang memasak di dapur, dan bertanya, “Bu, kenapa sih kita tidak tinggal di luar negeri saja? Aku ingin buat rumah pohon seperti di film.”

Ibu akan menjawab lembut, “Kan tidak harus di luar negeri, Sayang. Di negeri kita sendiri juga bisa buat rumah pohon.”

“Di mana, Bu? Di sini tidak ada pohon.” pikiran luguku saat itu membuatku menengok ke kanan dan kiri secara bergantian mencari pohon.

“Di desa, yang masih banyak pohonnya.”

“Desa itu di mana? Kalau begitu, kita tinggal di desa saja, Bu.”

“Kalau kamu tinggal di desa, sekolah kamu bagaimana?” tanya ibu yang biasanya akan berlutut untuk menyamakan tinggi denganku.

“Pindah saja.”

“Kamu tidak akan sedih, meninggalkan teman-teman?”

Aku terdiam dan bergumam, “Sedih…”

Lalu ibu membimbingku ke sebuah kursi kecil di dekat dapur.

“Nak, setiap orang mempunyai petualangannya masing-masing. Petualanganmu bersama teman-teman di sekolah juga seru, bukan? Bukankan kamu selalu semangat menarik tangan ibu ketika imgin menceritakan tentang petualanganmu hari itu?”

Aku mengangguk.

“Ibu masih ingat ketika kamu pulang ke rumah dengan hati gembira ketika berhasil mengantarkan anak yang tersesat di jalan kembali ke orang tuanya. Ibu juga masih ingat ketika kamu memaksa untuk dibuatkan kue, karena kamu dan teman-temanmu akan mengadakan piknik, di taman perumahan kita, bahkan kamu berulang kali mencari pakaian yang cocok untuk acara piknik tersebut.”

Aku mendengarkan dan mencoba mengingat-ingat semuanya.

“Sayang, petualangan-petualangan itu, kamu bisa ciptakan sendiri, bersama teman-teman. Memang, kalau menonton televisi pasti rasanya ingin sekali tinggal di sebuah desa yang masih hijau, menangkap kunang-kunang dan membuat rumah pohon. Tapi, kehidupanmu ada di sini, Sayang. Bersama ibu, ayah dan teman-teman semua. Syukuri itu, dan tetaplah berimajinasi dengan semua petualangan-petualangan hebatmu, Anakku.”

Ibu menarik napas sejenak, “Jika kamu memang mencintai hutan dan semua keajaiban di dalamnya, suatu hari ketika kamu dewasa, jadilah seseorang yang selalu akan menjaganya dan bukan merusaknya.”

Ibu mengelus rambutku lembut, dan aku mengangguk pelan.

Menciptakan petualangan. Pikiran mungillku saat itu terpatri di situ.

Saat aku menjalani fase putih abu-abuku, aku menemukan seseorang. Seseorang dengan imajinasi yang sama denganku. Semenjak itu pikiran kami berdua dipenuhi dengan rencana-rencana petualangan yang berusaha kami ciptakan. Mejelajah tempat-tempat tua, bertukar cerita dongeng yang kami ciptakan sendiri, terkadang aku menulis puisi dan dia akan meggambarkan seorang gadis kecil yang mirip sekali dengan gadis kecil di puisi yang kutulis, membaca buku bersama-sama di loteng rumahku sampai naik kereta api, hanya untuk berhenti di stasiun kecil di mana tidak ada apa-apa di sana selain rumput kuning yang mulai meninggi. Tempat itu kami temukan setelah proses penjelajahan panjang.

Suatu sore, dia datang ke rumah dengan motor tuanya, berkata bahwa dia baru saja menemukan sebuah tempat rahasia. Aku kesulitan mendapat izin dari ibu untuk dapat pergi bersamanya, karena hari mulai senja. Sampai akhirnya ibu mengizinkan dengan begitu banyak syarat yang dilontarkan.

Kami berangkat menuju utara, agak jauh dari tempat terjauh yang pernah kami singgahi. Bajuku sudah lengket bercampur keringat dan asap bus kota tua yang mengepul-ngepul hitam di depan motor yang temanku kendarai. Setelah semua perjuangan terlalui, akhirnya kami sampai di tempat rahasia itu.

Kami disambut rerumputan di kanan dan kiri jalan kecil yang berkelok-kelok. Jalannya tidak rata dan motor temanku terus berguncang. Jalan itu cukup panjang, dan pemandangan masih tetap rerumputan yang sebagian mulai tinggi tidak terawat. Ada sebuah pintu gerbang yang menyambut kami saat jalan berkelok penuh rumput itu berakhir. Sepertinya gerbang tua yang sudah lama tidak digunakan. Salah satu pintunya mengeluarkan bunyi “ngiiik” panjang saat kami coba dorong. Kutebak karat sudah menggerogoti semua badan tuanya.

“Kamu yakin kita boleh masuk?” tanyaku, sesaat ragu melihat pintu tua itu.

“Boleh, aku kan sudah pernah ke sini sebelumnya.”

Kami melanjutkan perjalanan panjang kami melewati pintu gerbang tersebut. Masih ada jalan berumput lain di dalamnya, ketika tidak terlalu jauh dari situ, kami temukan sebuah rumah tua yang indah. Dengan jendela bulat putih di depannya. Dindingnya dilapisi cat putih yang hampir mengelupas di semua bagian. Bunga kecil berwarna kuning tumbuh di halaman depan rumah tersebut.

“Rumah kosong?”

“Ya, baru saja ditinggalkan pemiliknya dua hari yang lalu. Ayo, tempat rahasianya bukan di sini.

Kami memarkir motor di halaman rumah tua tersebut, dekat dengan tangga kayu kecil yang digunakan untuk dapat sampai ke terasnya. Kami berjalan pelan menuju bagian belakang rumah, dan mataku seketika terkesiap. Ada hutan kecil di dalamnya. Dengan pohon-pohon rindang yang meneduhkan lengkap dengan selokan kecil yang airnya jernih, mengalir entah di mana ujungnya. Cukup terlihat seperti sungai di khayalan masa kecilku.

“Ada hutan di belakang rumah ini. Kei, kita bisa membangun rumah pohon di atas pohon raksasa ini.” seruku bersemangat sambil menepuk-nepuk pohon besar di sampingku. “Ternyata ada tempat seperti ini, tidak jauh dari tempat kita tinggal, Kei. Betapa beruntungnya pemilik rumah itu.”

“Ya. Ayo, masih ada kejutan lain.”

Dia membimbingku menyusuri barisan pohon rindang itu, ketika sampai hampir di ujungnya, bisa kulihat hampir keseluruhan kota tempatku tinggal. Dengan lampu-lampu yang mulai menyala, menyambut senja.

“Indah ya…” Temanku mengangguk menyetujui.

Sore itu kami duduk di rumput kering di ujung hutan kecil tempat rahasia kami. Saat itu sudah resmi menjadi tempat rahasia kami berdua.

“Sudah gelap, ayo, aku masih punya kejutan lain.”

Aku mengikutinya kembali menuju rumah tua di depan dengan rasa penasaran yang memenuhi pikiran. Kami menyelinap ke dekat teras rumah yang berbentuk panggung itu. Hati-hati berjalan supaya tidak menginjak bunga-bunga kuning kecil yang tumbuh tidak beraturan di sekitarnya.

Di depan mataku, kelap-kelip itu mulai muncul. Bergantian saling sambut. Ada puluhan, mungkin ratusan lampu-lampu mungil yang berkelap-kelip. Berwarna keemasan lembut, membuat malam di sana menjadi seolah penuh sihir. Sihir masa kecil yang berpendar di masa sekarang.

“Kunang-kunang…”

“Betul. Ada banyak sekali di sini.”

“Aku seperti sedang bermimpi, Kei.”

“Anggaplah begitu. Besok kamu akan terbangun dan semua ini akan hilang.”

Aku terkesiap kaget. “Kenapa?”

“Tanah ini akan hilang, dalam sekejap tempat ini akan berubah menjadi perumahan elit. Tidak akan ada lagi hutan kecil di belakang, tidak akan ada lagi kunang-kunang.”

“Kamu pasti sedang bergurau.”

Temanku menggeleng. “Suami istri tua yang tinggal di rumah ini, sudah menjualnya. Setelah desakan yang mereka terima dari pihak yang ingin mengembangkan lokasi ini, akhirnya mereka menyerah.”

“Tempat seperti ini tidak boleh hilang, Kei. Apa yang bisa kita lakukan?”

“Aku tidak tahu, Arina. Kita hanya anak SMA.”

Bandung, 18 February 2015

linebreak

Cerita di atas ditulis oleh Pradika Widianty, teman karib ane yg baik (sebuah penjelasan umum atas pertanyaan, “Dia orangnya gimana..?”). Katanya, tokoh utama pria di atas terinspirasi dari ane. Haha. Mungkin dia sedang khilaf. Tapi tempat rahasia kami di atas mungkin memang benar sudah berubah jadi perumahan elit atau tempat hangout anak muda masa kini. Who knows, I’m just a common people.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s