Secuil Cerita dari Pulau Pelangi

A Rabbit Among The Fairies, John Anster Fitzgerald, 1832-1906

Maaf, soalnya Bubu ga bisa kalo kita pergi kesana lewat jalan yg Baba pilih, Bubu tau itu adalah jalan yg benar dan walaupun itu jalan yg perih bagi Bubu tapi Baba akan selalu menolong Bubu melewati jalan yg Baba pilih itu, tapi sekali lagi maaf sekuat apapun Baba berusaha membantu Bubu nanti, Bubu ga tahan liat Baba menderita.” lanjut Bubu, seekor kelinci betina kecil yg sedang berdebat dg Baba, pasangan jantannya, tentang jalan terbaik menuju Padang Pemimpi.

Perbedaan pendapat yg nampak sepele pada awalnya kini telah meruncing menjadi perdebatan. Padahal Padang Pemimpi tempat dimana ladang wortel yg mereka tuju berada hanya berjarak tiga ratus tiga belas jengkal saja dari tempat mereka berdiri, sayangnya, ada rimba raya lebat penuh serigala dan anjing hutan di depan mereka. Hutan Histeris dg mayoritas pohon-pohon ek dan mahoni yg besar dan menjulang dg sesekali belukar dan semak rimbun terhampar di kaki-kaki pohonnya membuat Bubu sang betina ragu dan takut. Sedang bagi Baba, itu semua ibarat cemilan karena Baba pernah menembus hutan bakau yg angker di sekeliling Danau Dedalu hanya untuk memetik mawar hitam kesayangan Bubu yg hanya bisa tumbuh di tepian danaunya.

Baba berhasil mempersembahkan mawar hitam terbaik bagi Bubu, namun Bubu terlalu letih menunggu dan tertidur saat Baba datang membawakan mawar itu, Baba juga tidak tega membangunkan Bubu karena ekspresi damai yg menutupi beratnya penantian Bubu akan kepulangan Baba dari Kebun Kenangan (tempat Baba biasa mencari wortel untuk Bubu yg setia menanti Baba pulang setiap harinya menjelang sore). Baba yg letih saat itu, meletakkan wortel untuk Bubu dan mawar hitamnya disamping tempat tidur Bubu. Hingga keesokan harinya saat Bubu bangun, mawar hitamnya telah rontok dan kering, ia kecewa. Ia kecewa karena dimatanya, Baba mempersembahkan mawar kering yang tidak berarti. Bubu lupa, mawar itu sendiri telah bekerja keras menata kelopaknya hingga benar-benar terkembang dan wangi, Bubu lupa bahwa mawar itu tidak tidur semalaman demi menjaga kelopaknya tetap terkembang. Walaupun sang mawar pun tau bahwa hal itu sia-sia karena pada akhirnya tanpa air yg memadai ia akan berakhir kering dan botak, kehilangan kelopaknya, namun sang mawar tetap berusaha tampil seindah mungkin bilamana Bubu terbangun tengah malam, sayang Bubu tidak bangun malam itu tapi keesokan harinya.

Mengapa Baba hanya membawakan mawar kering yg jelek ini?”, tanya Bubu yg menderita karena baginya mawar itu tidak berguna. Baba diam beberapa saat.

Baba ga tega membangunkanmu, Bubu, Baba tau Bubu lelah menanti Baba.” jawab Baba.

Beruntung bagi Baba karena Bubu adalah seekor kelinci betina kecil yg baik dan pengertian. Mereka pun belajar memahami bahwa siapa saja bisa menikmati hasil atas suatu pencapaian tertentu, namun bagian terpenting dari pencapaian tersebut adalah prosesnya. Kau bisa menikmati kue mangkuk yg manis dg topping kacang di atasnya dan merasakan manisnya, namun bagi mereka yg memahaminya, menikmati kue mangkuk tanpa mengetahui proses pembuatannya sama seperti dilahirkan ke dunia tanpa orangtua. Yg terpenting adalah menjalani prosesnya sebaik mungkin dan menikmati hasilnya agar bisa dipelajari bilamana terdapat kesalahan dan diperbaiki di lain kesempatan.

Maafkan Bubu ya Baba, Bubu tau kesalahan Bubu dalam penantian adalah tertidur saat menanti kepulangan Baba…” kata Bubu akhirnya.

Tidak Bubu, ini salah Baba, seharusnya Baba memberitakan pada belalang-belalang di ladang bahwa Baba akan datang terlambat.” lanjut Baba.

Sudahlah Baba, mungkin ini hanya kesalahpahaman sederhana yg diperumit dg rutinitas kita dan kecurigaan Bubu akan adanya betina lain selain Bubu di hati Baba.”

Tapi bagi Baba, hanya Bubu saja yg ada di hati. Kenapa Bubu bisa berpikiran seperti itu?”

Bubu hanya takut kehilangan Baba.”

Perasaan takut kehilangan yg dialami Bubu, bila tidak ditangani secara komprehensif, akan membuat Bubu benar-benar kehilangan Baba. Bukan karena betina lain, namun karena pada akhirnya Bubu akan lebih mencintai dan lebih percaya pada rasa takut kehilangan itu sendiri ketimbang Baba. Ya. Rasa takut kehilangan itu bila dipelihara dg siraman air curiga dan dipupuk dg ketidak percayaan akan bermutasi menjadi monster kecil yg jahat bernama Posesif. Dan sebagaimana layaknya monster, tampilan luarnya selalu nampak manis dan rupawan namun di dalamnya ia begitu kejam dan tak berperasaan, ia akan memperdayamu dg rupanya yg manis dan polos hingga kau benar-benar bergantung padanya dan mempercayainya sepenuh hatimu. Lalu apapun yg ia katakan akan menjadi benar di matamu dan bila kau telah tiba di level mencintainya sepenuh hidupmu maka ia akan memisahkanmu dari pasanganmu yg seharusnya saat kau terlena. Ia akan menggeser nilai-nilai moral yg kau dapat dari keluargamu dan mencuci otakmu dg standar baru hingga kau tak akan mengenali dirimu sendiri lagi. Dan hanya Tuhan yg mampu menyadarkanmu kembali bila kau sudah terlena dan lebih memilih untuk hidup bersamanya ketimbang pasanganmu. Saat kau sadari kau tidak lagi bersama pasanganmu, kau tidak akan merasa bersalah karena bagimu apapun yg dikatakan sang monster adalah benar dan apapun yg dikatakan pasanganmu adalah salah, tentu saja sebagai manusia yg waras, maksud saya kelinci yg waras, kau akan cenderung memilih yg benar kan?

Maka kau akan memilih perkataan sang monster itu. Padahal permasalahannya bukanlah memilih antara perkataan Posesif dan perkataan pasanganmu, namun pada skala prioritas cinta dan kepercayaan yg tulus dan membutakanmu. Bila kau menempatkannya diatas pasanganmu maka berdo’alah hubungan kalian bertahan sebaik mungkin, karena biasanya hubunganmu menjadi aneh dan dipenuhi dg ketidak percayaan pada pasanganmu akibat ulahmu yg mencintanya hingga dibutakan oleh sang monster. Adalah wajar bila kau dibutakan oleh cintamu pada pasanganmu yg juga dibutakan oleh perasaannya padamu, karena hanya dg kebutaan seperti itu hati kalian akan saling menuntun satu sama lain dalam kebahagiaan. Karena pada hakikatnya, kebahagiaan bukanlah suatu hasil pencapaian ataupun suatu keadaan yg bisa dituju dan dikondisikan, kebahagiaan adalah suatu proses, bukanlah hasil seperti selama ini kita bayangkan. Ya. Bisa dibilang, kebahagiaan merupakan perjalanan.

Dan perjalanan pulalah yg membawa Baba dan Bubu terhenti di depan Hutan Histeris. Mereka masih berdebat tentang jalan mana yg mereka pilih. Baba memilih utk bersama-sama berjalan lurus menembus Hutan Histeris dan bersiap untuk menjaga Bubu sepanjang waktu agar tidak digoda oleh serigala-serigala jantan yg tampan dan terkenal licik serta bermulut halus yg mampu memperdaya manusia, maksud saya hewan-hewan betina apapun yg masuk situ. Begitu pula dg anjing-anjing hutan betina yg terkenal molek dan mulus yg membuat setiap pejantan manapun yg melewati Hutan Histeris terlena dan jatuh dalam pelukan maut mereka. Dan sudah bisa ditebak akhirnya, hewan apapun yg jatuh dalam pelukan serigala dan anjing hutan terpaksa merelakan tubuhnya menjadi santap malam dan dinikmati beramai-ramai hingga hanya tersisa tulang belulang saja. Karena takut tubuhnya akan berakhir dicabik-cabik serigala maka Bubu lebih memilih untuk mengambil jalan memutar sepanjang tepian Hutan Histeris hingga akhirnya bisa “menyeberang” Desa Candatawa di Tepian Barat Danau Dedalu untuk kemudian kembali menyusuri tepian danau itu hingga bertemu dg Baba yg diperkirakan oleh Bubu akan tiba lebih dulu di Tepi Selatan Danau Dedalu, tempat dimana Padang Pemimpi berada.

linebreak

Desa Candatawa, di permukaannya tidaklah nampak lebih berbahaya daripada serigala dan anjing hutan di Hutan Histeris, namun makanan pokok penduduk desanya-lah yg sebenar-benarnya lebih berbahaya ketimbang serigala maupun anjing hutan atau bahkan garuda sekalipun. Penduduk Desa Candatawa yg beragam mulai dari ayam kalkun, rubah, burung hantu hingga singa dan macan memang memiliki makanan kesukaannya masing-masing. Namun ada masanya, mereka memakan makanan yg sama untuk santap malam pada hari-hari yg ganjil setiap bulannya. Jamur Jenaka. Bagi penduduk setempat, Jamur Jenaka hanya akan membuat mereka berfantasi dan berhalusinasi selama beberapa saat dan menciptakan efek kenyang yg luar biasa sehingga menimbulkan peningkatan hormon serotonin yg menenangkan yg membuat mereka tertidur lelap hingga keesokan harinya. Namun bagi pendatang, pengunjung atau pelintas macam Bubu nantinya, Jamur Jenaka benar-benar berbahaya. Masih ingat bahwa Bubu ternyata menanam bibit-bibit kecil rasa takut kehilangan dalam ladang hatinya diatas tadi? Bila Bubu mengkonsumsi Jamur Jenaka saat ia melintasi dan beristirahat di Desa Candatawa selama beberapa hari nanti, ia berhalusinasi bahwa apapun yg dipegangnya adalah Baba dan tidak membiarkan orang lain, ergh maksud saya hewan-hewan lain meminjamnya. Tidak mengapa bila Bubu hanya menggenggam sendok, namun bagaimana bila ia menggenggam garpu? Karena garpu, selain pisau makan, adalah salah satu alat makan yg berbahaya bila kau menggenggamnya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Baba tidak ingin Bubu melukai dirinya sendiri. Lebih baik Baba saja yg terluka, demikian ujarnya dulu saat Bubu menyatakan keinginannya melintasi Desa Candatawa.

Kau pasti berpendapat, “Kalau begitu, saat tiba di Desa Candatawa nanti, Bubu jangan sampai mengkonsumsi Jamur Jenaka saja kan, itu kan sederhana.” Namun sayangnya, wortel perbekalan Baba dan Bubu tinggal sedikit, mereka sudah menghabiskan persediaan wortel hasil pencarian Baba di Kebun Kenangan saat mereka menjamu keluarga mereka beberapa hari yg lalu. Hanya tersedia beberapa batang saja dalam tas gendong Bubu, dan setengah batang lagi dalam tas gendong Baba. Baba merelakan sebagian wortelnya untuk Bubu, toh ia masih bisa mencari lagi di jalan nanti. Dan sialnya, hanya ada satupun penduduk Desa Candatawa yg berjenis pengerat. Marmut pohon. Pemakan biji-bijian. Oleh karena itu, dalam radius sembilan belas hari perjalanan, tidak ditemukan adanya ladang wortel. Ini adalah bencana bagi kelinci. Karena itu, bila suatu hari Bubu kehabisan wortel, mau tidak mau ia harus mau mengkonsumsi makanan yg disajikan disitu, termasuk Jamur Jenaka. Bahaya. Namun sungguh, Bubu benar-benar tidak mau bila harus melalui Hutan Histeris, bukan apa-apa, sebenarnya Bubu percaya bahwa Baba bisa melindunginya dan menyadarkannya saat ia tergoda oleh serigala jantan manapun. Bubu takut bila Baba yg malah tergoda oleh kemolekan anjing hutan betina yg mulus. Bubu takut, ia tidak mampu menyadarkan Baba. Bubu takut kehilangan Baba, sebegitu takutnya hingga ia lupa bahwa bagi Baba, hanya ada Bubu di hatinya.

Hingga akhirnya malam-pun tiba, mereka memutuskan untuk bermalam dibawah salah satu dedalu besar di depan Hutan Histeris. Mereka tertidur berpelukan. Baba memeluk Bubu dari belakang hingga lembutnya lelap nafas Baba terdengar di telinga Bubu. Kedua mata mereka terpejam, namun ternyata Bubu tidak tertidur. Ia masih terjaga. Ia benar-benar takut kehilangan Baba.

Mengapa kau takut kehilangan Baba?”, tiba-tiba muncul suara dalam hatinya. Itu adalah suara Posesif.

Kau siapa? Darimana kau tau aku takut kehilangan Baba?”, tanya Bubu curiga.

Jangan takut. Aku adalah suara hatimu. Aku akan muncul tiap kali kau diliputi kebimbangan”, jawabnya.

Oh, baiklah. Kalau begitu kau adalah aku. Aku takut kehilangan Baba. Aku tidak tau apakah aku mampu menyadarkan Baba bila ia tergoda suatu hari nanti.” jawab Bubu atas pertanyaan Posesif tadi.

Hmm, takut kehilangan adalah perasaan yg bagus. Kau harus menjaga sebaik-baiknya apapun yg telah menjadi milikmu yg tersedia hanya untukmu. Kau tau, bila kalian melewati Desa Candatawa, niscaya kalian tak akan kehilangan satu sama lain. Kalian hanya akan saling bunuh satu sama lain, eeuh maksudnya kalian akan saling bantu membunuh perasaan takut kehilangan tersebut karena disana kalian akan saling memiliki, berdua selamanya.” lanjut Posesif.

Benarkah itu?”, tanya Bubu.

Benar? Tentu saja benar. Aku adalah suara hatimu, mana mungkin aku salah, benar tidak?” timpal Posesif lagi.

Aah, euuh, aku bingung. Bila itu benar, lalu mengapa Baba tidak pernah mau kuajak kesana sih? Katanya, bahaya jika kita berdua berada disana, kehilangan kesadaran, sama-sama menggenggam garpu dan duduk berhadap-hadapan. Aku masih bingung, apanya yg berbahaya dari hanya duduk berhadapan dan memegang garpu?” tanya Bubu lagi, ia teringat akan peringatan Baba atas resiko hilangnya kesadaran yg dialami bila mengkonsumsi Jamur Jenaka. Baba sadar, bila ia kehilangan kesadaran, maka tidak ada lagi yg bisa melindungi Bubu. Ia juga sadar bila mereka kehilangan kesadaran bersamaan, maka kemungkinan besar mereka akan saling menyakiti. Bahkan mungkin saling membunuh, karena bagaimanapun juga orang-orang, huff lagi-lagi maksud saya hewan-hewan yg kita sayangi adalah yg paling mampu melukai kita. Bila kau mencintai pasanganmu dan ia juga mencintaimu, maka apapun yg kalian lakukan akan membuat kalian bahagia walau seperih apapun hambatannya. Namun bila suatu ketika saat kalian beranjak tua, bila pasanganmu meninggalkanmu ke Surga lebih dulu, kau pasti sedih bukan? Dan kesedihan itu tak akan terkalahkan dg rasa sakit atau luka hati apapun yg kalian alami setelahnya. Bila kau benar-benar mencintai pasanganmu, kau akan benar-benar sedih bila ditinggalkannya. Karena itu, disadari atau tidak, mereka yg kita sayangi adalah yg paling mampu melukai.

Bahkan bila kau mau, kau bisa saja memastikan hal itu sendiri. Silakan saja kau pergi ke Desa Candatawa lebih dulu besok pagi-pagi benar sebelum mentari membangunkan Baba. Bukankah Baba bersikeras untuk memilih jalan melalui Hutan Histeris? Maka kau pun bisa menentukan jalanmu sendiri, apalagi perjalanan melalui Desa Candatawa memakan waktu lebih lama. Kau akan tiba pada saat yg bersamaan dg Baba di Padang Pemimpi nantinya. Percayalah.” lanjut Posesif.

Tapi nanti Baba pasti sedih bila aku pergi lebih dulu.” jawab Bubu.

Tenang saja, bila ia benar-benar mencintaimu dg tulus, ia pasti akan bahagia bila kau bahagia. Dan aku tau, kau pasti bahagia bila pergi menuju Padang Pemimpi melalui Desa Candatawa, bukan? Karena itu silakan pergilah mencari kebahagiaanmu sendiri. Toh, pada akhirnya kalian akan bertemu di Padang Pemimpi dan berbagi cerita bahagia tentang perjalanan kalian masing-masing.”

Tapi aku tidak ingin meninggalkan Baba. Aku juga tidak tau bagaimana caranya mencari kebahagiaan sendiri.”

Aku adalah kata hatimu, jadi biar aku yg menemanimu sepanjang perjalanan nanti. Lagipula ini adalah satu-satunya cara bila kau tidak ingin kehilangan Baba. Biarkan Baba pilih jalannya sendiri, dan tempuhlah jalanmu sendiri” Posesif benar-benar lihai memainkan peran sebagai kata hatinya Bubu.

Tapi aku dan Baba adalah satu dan kami tidak mungkin jalan sendiri-sendiri.” jawab Bubu tegas. Ketegasan yg dibangun di atas kerapuhan jiwanya yg telah digempur oleh permainan kata Posesif yg cerdas dan culas.

Mengapa tidak bukankah kalian dilahirkan sendiri-sendiri dan walaupun kini hidup bersama namun nantinya akan dipisahkan oleh Maut dan pergi menuju Surga sendiri-sendiri hingga akhirnya bertemu kembali disana? Anggaplah ini perjalanan menuju Surga dimana kau mengambil jalanmu sendiri dan Baba mengambil jalannya sendiri hingga akhirnya kau bertemu kembali di Surga, Padang Pemimpi.” lanjut Posesif.

Mmm, itu terdengar lebih baik. Baiklah kalau begitu, biar aku buka jalanku sendiri.” kata Bubu penuh semangat. Mungkin terdengar konyol namun bila kalian benar-benar menyayangi pasangan kalian, akan lebih baik —bahkan benar— bila kalian sama-sama menyatakan untuk membuka jalan kalian bersama, seperti ini, “Biar kami buka jalan kami berdua!”. Bukankah itu terdengar lebih baik?

Butir-butir embun yg menyelimuti dedaunan dan meresap di tanah perlahan mengering seiring dg bangunnya mentari yg turut membangunkan seisi penghuni bumi. Baba terjaga. Sendirian. Bubu sudah tidak ada dipelukannya. Ia bingung. Sedikit panik. Matanya mengerjap seolah tak percaya, lalu berkeliling melemparkan pandangan ke sekitarnya. Lantas serentak diikuti oleh langkah kaki-kaki mungilnya berlari mencari Bubu. Ia tidak dapat menemukan Bubu. Matanya mengerjap bukan tanda tak percaya, lalu butir-butir hangat airmata mengalir keluar darinya. Ia sedih bukan kepalang. Ia hanya menemukan selembar Kaukasia kering dg tulisan tangan Bubu diatasnya.

Jangan sedih Baba.
Bubu hanya ingin mengambil jalan yg berbeda dg Baba,
bukan berarti Bubu sudah tak sayang lagi pada Baba.
Bila kita benar-benar berjodoh,
kita pasti akan bertemu kembali di Padang Pemimpi.
Sampai nanti Baba.
Kekasihmu, Bubu”

Hati Baba benar-benar remuk redam. Ia tau, ia tak akan pernah bertemu kembali dg Bubu. Sekalipun ia telah tiba di Padang Pemimpi nanti karena ia tau saat ia tiba disana, Bubu mungkin sedang tidak sadarkan diri diantara para penghuni Desa Candatawa yg juga sedang tidak sadarkan diri karena pengaruh Jamur Jenaka yg akan membuat Bubu terlena dan mengalami adiksi pada jamur terkutuk itu yg membuatnya menjadi penghuni tetap Desa Candatawa. Hingga akhirnya Bubu tidak akan pernah rela untuk keluar dari Desa Candatawa walaupun sekedar berlibur ke Hutan Lembayung, tempat Baba dan Bubu dilahirkan, apalagi kembali ke rencana semula untuk menemui Baba di Padang Pemimpi.

A Hare in the Forest - Hans Hoffmann

Langkah Baba terasa berat saat memasuki jalan setapak dalam area Hutan Histeris sendirian, hatinya yg hampa membuatnya mengabaikan godaan-godaan yg datang dari anjing hutan betina yg kebetulan sedang berjalan-jalan disekitarnya. Akan ada lebih banyak lagi anjing-anjing hutan betina yg akan menggodanya seiring langkahnya yg semakin dalam di Hutan Histeris, namun baginya itu semua tidak berarti apa-apa, karena Tuhan hanya menciptakan satu hati bagi setiap makhuknya dan Baba telah mewakafkan hatinya bagi Bubu, tidak cukup waktu sembilan kali seumur hidup untuk merekatkan kembali hatinya yg luluh lantak. Pikirannya tetap terfokus pada perjalanannya menuju Padang Pemimpi. Seorang diri. Dalam hatinya, Baba menyadari bahwa setiap orang, heuh maksud saya, setiap hewan bisa saja menggapai kebahagiaannya sendiri. Namun mereka tetap saja tidak akan benar-benar bahagia tanpa adanya teman untuk sekedar berbagi. Karena layaknya pelangi yg tidaklah indah bila hanya terdiri dari satu warna belaka, maka begitu pula dg kebahagiaan. Kebahagiaan tidaklah nyata bila kita tidak memiliki teman hidup sejati untuk berbagi kebahagiaan yg kita raih. Takkan pernah ada kebahagiaan tanpa kebersamaan dalam hidup.

Hutan Rahasia

Beribu dongeng terjadi di dalam hutan. Aku sudah mendengarnya di saat bahkan pikiran sederhana kecilku hanya mampu menangkap suara ibu, yang menceritakan semua keajaiban itu padaku, setiap malam. Mengantarku tidur dengan kepakan sayap peri yang berwarna-warni, serigala jahat yang membuatku cepat-cepat masuk ke dalam selimut, dan bintang yang berkelap-kelip di atas pucuk cemara yang menjulang.

Saat aku mulai mengerti rangkaian huruf yang membentuk kata, Ibu menghadiahiku satu buku setiap minggu. Hari Kamis, jadwalnya buku itu datang. Bergambar indah dengan tidak terlalu banyak tulisan di dalamnya, khas buku dongeng untuk anak-anak. Umurku enam tahun saat itu. Saat dongeng-dongeng manis menyentuh lebih jauh ke dalam alam imajinasiku.

Satu keluarga tupai tinggal di dalam rumah indah mereka di sebuah pohon besar, di dalam hutan. Tupai-tupai itu memakai baju dan kacamata. Ada meja makan kayu besar berbentuk persegi panjang, di mana ibu tupai menyajikan makan malam untuk semua anggota keluarganya. Aku sangat ingin tinggal di dalam rumah tersebut, pintunya melingkar di bagian bawah pohon, dan jendela-jendela kecil menghiasi bagian atasnya.

Umurku terus bertambah. Di satu angka yang menginjak sembilan, ada dongeng lain tentang hutan yang melekat sampai sekarang. Seorang gadis kecil berambut emas, tinggal di sebuah pondok kecil di dalam hutan. Setiap hari ia membuat olahan permen yang berbau harum dan terasa manis. Ia bagikan permen itu kepada setiap penghuni hutan, yang selalu senang menerimanya. Sampai suatu hari seorang pangeran datang dan mengikuti jejak harum permen tersebut, dan mengantarkannya pada gadis cantik berambut emas pembuatnya. Merekapun berteman, karena ini dongeng anak-anak, akhir cerita mereka belumlah sampai pada sebuah kalimat happily ever after, hanya pertemanan, yang tulus tanpa syarat.

Ada pesta minum teh yang diadakan di dalam hutan setiap kali bulan purnama muncul. Sebuah meja berukiran indah dan cangkir-cangkir porselen yang manis tertata di atasnya. Kau bisa memilih sendiri rasa favoritmu. Bagi si kelinci cokelat yang selalu memakai dasi kupu-kupu di lehernya, peppermint adalah rasa favorinya. Seekor kucing berbulu hitam dan putih selalu setia menemani si kelinci menikmati teh di saat bulan purnama. Hutan menjadi lebih terang dan hangat. Tidak jarang seekor burung biru gendut ikut meramaikan suasana, hanya jika dia belum mengantuk.

Apa kau percaya peri?

Aku percaya. Bahkan sampai umurku menginjak akhir belasan tahun, aku masih menyimpan susu dan biskuit di bawah jendela kamarku, berharap peri sudah memakannya ketika aku bangun keesokan paginya. Bagi setiap pencinta dongeng hutan, menyelinap malam-malam dengan sebuah perangkap berbentuk rumah-rumahan kecil yang dibuat untuk menangkap peri adalah suatu hal yang wajib dilakukan. Menyimpannya di sekitar sungai, berdiam sejenak mengawasi, lalu merasakan kantuk, memutuskan untuk pulang dan berlomba-lomba menuju tempat yang sama esok harinya di mana perangkap itu diletakkan, untuk melihat adakah seorang peri yang terjebak di sana. Ada sebuah film tentang itu, saat aku masih kecil.

Pohon hijau yang rindang dan sungai kecil yang mengalir di bawahnya selalu menawarkan sihir, tentang malam-malam penuh kelip warna, entah bintang, kunang-kunang, atau sayap-sayap transparan peri-peri hutan yang sedang mengisi perbekalan musim dingin. Aku selalu ingin bisa berada di tengah semua itu.

Umurku sekitar tiga belas tahun saat hari minggu pagi selalu kuhabiskan dengan menonton televisi. Film-film anak buatan luar negeri yang menawarkan petualangan di sekitar hutan dan tentu saja, rumah pohon sebagai persembunyian. Sekelompok anak kecil yang berpetualang, bermain perang-perangan, atau hanya untuk berbincang di rumah pohon, basecamp mereka.

Aku tinggal di daerah perkotaan sedari kecil. Tidak ada hutan, tidak ada sungai kecil yang mengalir, tidak ada rumah pohon. Aku mengenal hutan hanya dari jendela-jendela indah yang ibu hadiahkan kepadaku, buku. Aku mengenal hutan dan semua keajaiban di dalamnya hanya dari sebuah tulisan dan gambar-gambar indah ilustratornya. Mengenal hijau yang menyegarkannya pohon rindang hanya dari goresan tinta dan membayangkan sihir indahnya hanya dengan mengandalkan imajinasiku yang membuat teman-temanku sering berkata “Kamu terlalu banyak mengkhayal”.

Aku sedih, setiap kali menonton film anak-anak buatan luar negeri.

Aku akan menghampiri ibu yang sedang memasak di dapur, dan bertanya, “Bu, kenapa sih kita tidak tinggal di luar negeri saja? Aku ingin buat rumah pohon seperti di film.”

Ibu akan menjawab lembut, “Kan tidak harus di luar negeri, Sayang. Di negeri kita sendiri juga bisa buat rumah pohon.”

“Di mana, Bu? Di sini tidak ada pohon.” pikiran luguku saat itu membuatku menengok ke kanan dan kiri secara bergantian mencari pohon.

“Di desa, yang masih banyak pohonnya.”

“Desa itu di mana? Kalau begitu, kita tinggal di desa saja, Bu.”

“Kalau kamu tinggal di desa, sekolah kamu bagaimana?” tanya ibu yang biasanya akan berlutut untuk menyamakan tinggi denganku.

“Pindah saja.”

“Kamu tidak akan sedih, meninggalkan teman-teman?”

Aku terdiam dan bergumam, “Sedih…”

Lalu ibu membimbingku ke sebuah kursi kecil di dekat dapur.

“Nak, setiap orang mempunyai petualangannya masing-masing. Petualanganmu bersama teman-teman di sekolah juga seru, bukan? Bukankan kamu selalu semangat menarik tangan ibu ketika imgin menceritakan tentang petualanganmu hari itu?”

Aku mengangguk.

“Ibu masih ingat ketika kamu pulang ke rumah dengan hati gembira ketika berhasil mengantarkan anak yang tersesat di jalan kembali ke orang tuanya. Ibu juga masih ingat ketika kamu memaksa untuk dibuatkan kue, karena kamu dan teman-temanmu akan mengadakan piknik, di taman perumahan kita, bahkan kamu berulang kali mencari pakaian yang cocok untuk acara piknik tersebut.”

Aku mendengarkan dan mencoba mengingat-ingat semuanya.

“Sayang, petualangan-petualangan itu, kamu bisa ciptakan sendiri, bersama teman-teman. Memang, kalau menonton televisi pasti rasanya ingin sekali tinggal di sebuah desa yang masih hijau, menangkap kunang-kunang dan membuat rumah pohon. Tapi, kehidupanmu ada di sini, Sayang. Bersama ibu, ayah dan teman-teman semua. Syukuri itu, dan tetaplah berimajinasi dengan semua petualangan-petualangan hebatmu, Anakku.”

Ibu menarik napas sejenak, “Jika kamu memang mencintai hutan dan semua keajaiban di dalamnya, suatu hari ketika kamu dewasa, jadilah seseorang yang selalu akan menjaganya dan bukan merusaknya.”

Ibu mengelus rambutku lembut, dan aku mengangguk pelan.

Menciptakan petualangan. Pikiran mungillku saat itu terpatri di situ.

Saat aku menjalani fase putih abu-abuku, aku menemukan seseorang. Seseorang dengan imajinasi yang sama denganku. Semenjak itu pikiran kami berdua dipenuhi dengan rencana-rencana petualangan yang berusaha kami ciptakan. Mejelajah tempat-tempat tua, bertukar cerita dongeng yang kami ciptakan sendiri, terkadang aku menulis puisi dan dia akan meggambarkan seorang gadis kecil yang mirip sekali dengan gadis kecil di puisi yang kutulis, membaca buku bersama-sama di loteng rumahku sampai naik kereta api, hanya untuk berhenti di stasiun kecil di mana tidak ada apa-apa di sana selain rumput kuning yang mulai meninggi. Tempat itu kami temukan setelah proses penjelajahan panjang.

Suatu sore, dia datang ke rumah dengan motor tuanya, berkata bahwa dia baru saja menemukan sebuah tempat rahasia. Aku kesulitan mendapat izin dari ibu untuk dapat pergi bersamanya, karena hari mulai senja. Sampai akhirnya ibu mengizinkan dengan begitu banyak syarat yang dilontarkan.

Kami berangkat menuju utara, agak jauh dari tempat terjauh yang pernah kami singgahi. Bajuku sudah lengket bercampur keringat dan asap bus kota tua yang mengepul-ngepul hitam di depan motor yang temanku kendarai. Setelah semua perjuangan terlalui, akhirnya kami sampai di tempat rahasia itu.

Kami disambut rerumputan di kanan dan kiri jalan kecil yang berkelok-kelok. Jalannya tidak rata dan motor temanku terus berguncang. Jalan itu cukup panjang, dan pemandangan masih tetap rerumputan yang sebagian mulai tinggi tidak terawat. Ada sebuah pintu gerbang yang menyambut kami saat jalan berkelok penuh rumput itu berakhir. Sepertinya gerbang tua yang sudah lama tidak digunakan. Salah satu pintunya mengeluarkan bunyi “ngiiik” panjang saat kami coba dorong. Kutebak karat sudah menggerogoti semua badan tuanya.

“Kamu yakin kita boleh masuk?” tanyaku, sesaat ragu melihat pintu tua itu.

“Boleh, aku kan sudah pernah ke sini sebelumnya.”

Kami melanjutkan perjalanan panjang kami melewati pintu gerbang tersebut. Masih ada jalan berumput lain di dalamnya, ketika tidak terlalu jauh dari situ, kami temukan sebuah rumah tua yang indah. Dengan jendela bulat putih di depannya. Dindingnya dilapisi cat putih yang hampir mengelupas di semua bagian. Bunga kecil berwarna kuning tumbuh di halaman depan rumah tersebut.

“Rumah kosong?”

“Ya, baru saja ditinggalkan pemiliknya dua hari yang lalu. Ayo, tempat rahasianya bukan di sini.

Kami memarkir motor di halaman rumah tua tersebut, dekat dengan tangga kayu kecil yang digunakan untuk dapat sampai ke terasnya. Kami berjalan pelan menuju bagian belakang rumah, dan mataku seketika terkesiap. Ada hutan kecil di dalamnya. Dengan pohon-pohon rindang yang meneduhkan lengkap dengan selokan kecil yang airnya jernih, mengalir entah di mana ujungnya. Cukup terlihat seperti sungai di khayalan masa kecilku.

“Ada hutan di belakang rumah ini. Kei, kita bisa membangun rumah pohon di atas pohon raksasa ini.” seruku bersemangat sambil menepuk-nepuk pohon besar di sampingku. “Ternyata ada tempat seperti ini, tidak jauh dari tempat kita tinggal, Kei. Betapa beruntungnya pemilik rumah itu.”

“Ya. Ayo, masih ada kejutan lain.”

Dia membimbingku menyusuri barisan pohon rindang itu, ketika sampai hampir di ujungnya, bisa kulihat hampir keseluruhan kota tempatku tinggal. Dengan lampu-lampu yang mulai menyala, menyambut senja.

“Indah ya…” Temanku mengangguk menyetujui.

Sore itu kami duduk di rumput kering di ujung hutan kecil tempat rahasia kami. Saat itu sudah resmi menjadi tempat rahasia kami berdua.

“Sudah gelap, ayo, aku masih punya kejutan lain.”

Aku mengikutinya kembali menuju rumah tua di depan dengan rasa penasaran yang memenuhi pikiran. Kami menyelinap ke dekat teras rumah yang berbentuk panggung itu. Hati-hati berjalan supaya tidak menginjak bunga-bunga kuning kecil yang tumbuh tidak beraturan di sekitarnya.

Di depan mataku, kelap-kelip itu mulai muncul. Bergantian saling sambut. Ada puluhan, mungkin ratusan lampu-lampu mungil yang berkelap-kelip. Berwarna keemasan lembut, membuat malam di sana menjadi seolah penuh sihir. Sihir masa kecil yang berpendar di masa sekarang.

“Kunang-kunang…”

“Betul. Ada banyak sekali di sini.”

“Aku seperti sedang bermimpi, Kei.”

“Anggaplah begitu. Besok kamu akan terbangun dan semua ini akan hilang.”

Aku terkesiap kaget. “Kenapa?”

“Tanah ini akan hilang, dalam sekejap tempat ini akan berubah menjadi perumahan elit. Tidak akan ada lagi hutan kecil di belakang, tidak akan ada lagi kunang-kunang.”

“Kamu pasti sedang bergurau.”

Temanku menggeleng. “Suami istri tua yang tinggal di rumah ini, sudah menjualnya. Setelah desakan yang mereka terima dari pihak yang ingin mengembangkan lokasi ini, akhirnya mereka menyerah.”

“Tempat seperti ini tidak boleh hilang, Kei. Apa yang bisa kita lakukan?”

“Aku tidak tahu, Arina. Kita hanya anak SMA.”

Bandung, 18 February 2015

linebreak

Cerita di atas ditulis oleh Pradika Widianty, teman karib ane yg baik (sebuah penjelasan umum atas pertanyaan, “Dia orangnya gimana..?”). Katanya, tokoh utama pria di atas terinspirasi dari ane. Haha. Mungkin dia sedang khilaf. Tapi tempat rahasia kami di atas mungkin memang benar sudah berubah jadi perumahan elit atau tempat hangout anak muda masa kini. Who knows, I’m just a common people.

Nabirenarotali

Melengkung menggapai horizon di pantaimu
ditemani debur kepolosan penghuni pesisir
Kami menghiasimu dengan senandung merdu
membiarkan mantera-mantera pelindung mengalir

Menjabat erat peradaban dan kemanusiaan
Memeluk hangat tradisi dan kenangan
Tak segan pula kami menantang tiran
yang mengatasnamakan kerakyatan dan keamanan

Siklusmu adalah kehidupan
Menjaga irama seperti lautan dan rembulan
Berputar syahdu dari kaki langit hingga ke hutan
Menikmatinya tanpa harus mempertanyakan

Jauh terasing dari propaganda ekonomi
Jauh terasing dari ironi kekuasaan
Abaikan saja preman-preman berseragam
Hiraukan semua dalih berdasi legam

Tuhan melindungi kami dalam berkah
Disimpannya karunia dalam tanah
Tanah ulayat leluhur ini nyawa kami
Simbol keluguan masa lalu hingga nanti

Kami lindungi jengkalnya dengan darah
dengan parang dan doa dan sumpah serapah
Dari sampah demokrasi yang serakah
demi generasi kecil masa depan penopang sejarah

Dalam siklusmu berupa kehidupan
Kami hiasi dengan senandung merdu
Menjaga irama seperti lautan dan rembulan
Memanteraimu dari lautan hingga ke hutan

Masqueradescapade

   Kebebasan itu murah, membebaskan dan pembebasanlah yg mahal.

Hari ini saat anda melihat apa yang akan anda lihat,
coba pikirkan bahwa anda memang ingin melihat hal itu.
Hari ini saat anda melakukan apa yang anda ingin lakukan,
pikirkan lagi bahwa ini adalah keinginan anda.
Bebas dari apapun pandangan orang tentang hal itu.
Hari ini saat anda mendengar apa yang ingin anda dengar,
pikirkan bahwa itu memang hal yang ingin anda dengar.
Hari ini saat anda berkata apa yang ingin anda katakan,
coba pikir bahwa itu memang perkataan anda sepenuhnya.
Bebas dari referensi apapun dan dari masa lalu anda.

Hari ini bebaskan diri anda dari apa yang telah ditentukan orang orang di masa lalu!
Coba pikirkan bila anda adalah penemu “sendok” dan anda menyebutnya “gayung”, maka saat ini alat untuk mengantarkan makanan ke mulut kita akan disebut “gayung”!
Manifestasikan apa yang anda rasakan lewat cara anda sendiri.
Mari ini, bebaskan pikiran anda tentang hitam adalah hitam dan putih adalah putih.
Biarkan diri anda menentukan semuanya. linebreakHari ini bebaskan diri anda dari pengaruh orang orang besar dan pikiran mereka.
Hari ini bebaskan diri anda dari semua hal kecuali diri anda sendiri.
Hari ini pikirkan bahwa anda adalah seorang atheis yang autis.
Hari ini bebaskan diri anda dari semua yang anda pikir itu normal abnormal.
Bebaskan saja semuanya. Bukan semaunya.

Bahkan pengaruh dari pikiran saya tentang andadan efek samping setelah anda selesai membaca hal ini.
Anda punya beberapa pilihan agar terbebas dari itu semua:
1. Ikuti kata hati anda dan lanjutkan hidup anda dengan memakai topeng kesemuan anda kembali;
2. Ikuti pola pikir saya dengan membebaskan diri dari semua hal kecuali anda sendiri;
3. Ikuti kedua pilihan di atas;
4. Jangan ambil pilihan apapun.

Featured image

Terserah.